This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 20 Januari 2016

Tugas Softskill "Biro Konsultasi On web and Youtube"

Kelompok 3:
Aditya Muhammad
Helmy Munandar
Herru JP
M. Haqqi Abrian
Nurul Syahfitri
Renzi Oktaviani
Kelompok kami mengusung tema teori tentang perkembangan anak oleh Jean Piaget. Menurut Piaget, pengertian seseorang itu mengalami perkembangan dari lahir sampai menjadi dewasa. Secara garis besar, piaget membedakan 6 taham dalam perkembangan kognitif anak:
Tahap sensorimotor yang terjadi sejak anak lahir sampai berumur 2 tahum,
Tahan praoperasi pada umur 2-7tahun
Tahap opersi konkret pada umur 7-11tahun
 Tahap oerasi formal setelah umur 11 thn keatas.
Perkembangan tahap-tahap tersebut berurutan karena setiap tahap memerlukan tahap yang sebelumnya. Awal dan perkembangan tahap-tahap dapat berbeda setiap pribadi.
Untuk kelompok kami, kami memfokuskan anak-anak yang dibawah umur yang melakukan hal-hal negatif seperti: meminum alkohol, tawuran, merokok, dan sebagainya. untuk lebih detailnya Anda bisa menonton videonya di web dan channel youtube kami.
Check our Video on Youtube:
And our web www.nbpsychology.simplesite.com

Jumat, 26 Juni 2015

TUGAS PSIKOTERAPI KELOMPOK 9

A. Terapi Keluarga

1. Pengertian Terapi Keluarga
    Terapi keluarga dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dari teoritis ilmu psikologi mengenai intervensi keluarga (Liddle, Bray, Levant, & Santisteban, 2002), intervensi keluarga psikologi dapat melibatkan, menilai, dan memperhatikan beberapa sistem dan tingkat pengaruh sosial, termasuk rekan, sekolah, pekerjaan, dan komunitas.
    Suatu metode terapi dimana anggota keluarga memperoleh pemahaman terhadap permasalahannya, mengembangkan komunikasi, dan meningkatkan fungsi dari setiap individu dalam keluarga. Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Jadi, terapi keluarga adalah metode dimana anggota keluarga memperoleh pemahaman terhadap permasalahannya, mengembangkan komunikasi, memahami perilaku dan menemukan solusi bagaimana cara pemecahannya.
    Terapi keluarga dapat dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan orang lain, terapis keluarga hanya membantu untuk mengidentifikasi dan merubah masalah maladaptif, menjadi lebih sehat dan mengusahakan supaya keadaan dapat disesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda. Fokus dari terapi ini, bukan individual, namun pada keluarga secara keseluruhan.
    Tujuan konseling keluarga terutama adalah untuk mengerti keluarga penderita gangguan skizofrenia, konseling keluarga dianggap cara baru untuk mengerti dan menangani penderita gangguan mental. Kemudian konseling keluarga tidak hanya berguna untuk menangani individu dalam konteks keluarga, tetapi juga keluarga yang tidak berfungsi baik.

2. Prinsip Terapi Keluarga
    Terapi keluarga didasarkan pada teori system (Van Bertalanffy, 1968) yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya. Prinsip kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti  sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
Terapi keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga. Tanpa adanya ksadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa system dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga.

3. Model Terapi Keluarga
Behavioral
    Tujuan dari terapi behavioral adalah merubah konsekuaensi perilaku anatar pribadi yang mengarah pada penghilangan perilaku maladaptif atau problemnya. Kerangka umum dari pendekatan behavioral adalah masa kini yang lebih memfokuskan pada lingkungan interpersonal yang terpelihara dan muncul terus dalam pola perilaku terkini. Fungsi utama dari terapis adalah direktif, mengarahkan, membimbing atau model dari perilaku yang diinginkan dan negosiasi kontrak.

Psikodinamika
    Tujuan dari terapi psikodinamika ini adalah pertumbuhan, pemenuhan lebih banyak pada pola interaksi yang lebih. Psikodinamikan memandang keluarga sebagai system dari interaksi kepribadian, duimana setiap individu mempunyai usb-sistem yang penting dalam keluarga, sebagaimana keluarga sebagai sebuah sub-sistem dalam sebuah komunitas. Terapis menjadi fasilitator yang menolong keluarga untuk menentukan tujuannya sendiri dan bergerak kearah mereka sebagaimana sebuah kelompok.
    Kerangka umum adalah masa lalu, sejarah dari pengalaman terdekat yang perlu diungkap. Aturan dari ketidaksadaran adalah konflik dari masa lalu yang tidak terselesaikan akan Nampak pada perilaku sadar seseorang secara kontineu untuk mrnghadapi situasi dan obyek yang ada sekarang. Fungsi utama dari terapis bersikap netral artinya membuat intepretasi tehadap pola perilaku individu dan keluarga.
Bowenian
    Tujuan terapi adalah memaksimalkan diferensiasi diri pada masing-masing anggota keluarga. Kerangka umumnya dari Bowen adalah mengutamakan masa kini dan tetap memperhatikan latar belakang keluarga. Atauran dari ketidak sadaran adalah konsep terkini yang menyatakan konflik yang tidak disadari meskipun saat ini tampak pada masa interaktif. Fungsi utama dari terapis adalah langsung tapi tidak konfrontasi dan dilihat melalui penyatuan keluarga. Bowen mencoba menjembatani antara pendekatan yang berorientasi pada psikodinamika yang menekankan pada perkembangan diri, isu-isu antar generasi dan peran-peran masa laludengan pendekatan yang membatasi perhatian pada unit keluarga dan pengaruhnya dimasa kini.




B. Contoh Kasus

1. Permasalahan
Don                 : Father
                          Ex-Husband
                         Has Child Custody
Don adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Tetapi ia tidak merasa demikian beberapa waktu terakhir karena ia merasa bahwa anak laki-lakinya telah menjadi seorang anak yang nakal dan menakutkan.
Angela             : Mother
                         Ex-Wife
                         Has Visitation Rights
Angela begitu heran dengan kelakuan anak laki-lakinya yaitu Ben. Namun yang membuat ia lebih heran lagi adalah mengapa suaminya mengizinkan Ben untuk minum minuman keras.
Heather           : Daughter
                          Sister
                              Student
    Heather mengatakan bahwa hubugannya dia dengan kedua orang tuanya sangat baik. Namun berbeda dengan hubungannya dengan kakaknya, Ben, ia merasa bahwa hubungannya dengan Ben sangat gila.
Ben                  : Son
                          Brother
                          Unemployed
Ben adalah sorang kakak yang pengangguran yang mempunyai hubungan yang sangat tidak baik dengan adik perempuannya.


2. Proses Terapi
            Terdapat 4 orang yang terlibat dalam proses terapi. Seorang terapis wanita, Don (ayah), Ben (anak laki-laki), dan Heather (anak perempuan). Terapi dilakukan di sebuah ruangan tertutup. Posisi duduk mereka membentuk setengah lingkaran, dengan ujung paling kiri yaitu Ben, kemudian di sebelahnya adalah terapis, setelah terapis adalah Heather, dan kemudian di ujung paling kanan adalah Don.
Awalnya, terapis mengatakan bahwa penting sekali membahas masalah hubungan antar anggota keluarga tersebut. Kemudian terapis juga meluruskan tentang peran orang tua dan anak dalam sebuah keluarga. Hal ini ditekankan kembali karena Don (ayah) cenderung membela Heather, anak perempuannya. Akan tetapi pada akhirnya Don dapat menyadari sikap seperti apa yang harus ia lakukan sebagai orang tua yang baik. Setelah itu terapis meminta ayah dan Ben untuk bertukar posisi duduk agar Ben dan Heather dapat duduk berdampingan.
Terapis mempersilahkan Heather untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya terhadap sosok Ben. Heather mengatakan bahwa ia merindukan sosok kakaknya yang seperti dulu dan ia merasa bahwa ia sudah tidak mengenali kakaknya lagi, yang sekarang ini dianggap sering berperilaku menyimpang. Misalnya saja sekarang Ben terbiasa pulang pagi dan juga berkata-kata kasar.
Setelah Heather selesai mengungkapkan apa yang ia rasakan dan pikirkan kemudian terapis meminta Ben untuk menanggapi apa yang disampaikan oleh adik perempuannya tersebut. Dan terungkaplah bahwa selama ini Ben merasa bahwa selama ini dia diperlakukan secara berbeda dengan adiknya.
Setelah mendengar pengakuan dari kedua kakak beradik tersebut, terapis pun berusaha memberikan insight pada sang ayah tentang akar permasalahan yang terjadi di antara Ben dan Heather. Dan di akhir sesi terapi, hubungan antar anggota keluarga tesebut pun terlihat menjadi lebih hangat. Terapi selesai.


3. Pembahasan
Salah satu bentuk intervensi Psikologi Keluarga adalah terapi keluarga. Terapi keluarga merupakan salah satu terapi modalitas yang melihat masalah individu dalam konteks lingkungan khususnya keluarga. Untuk dapat menjalankan terapi keluarga dengan baik diperlukan pendidikan dan latihan dengan dilandasi berbagai teoeri yaitu psikoterapi kelompok, konsep keluarga struktur dan fungsi keluarga, dinamika keluarga, terapi perilaku dan teori komunikasi.
Contoh kasus diatas dapat di kaitkan dengan terapi keluarga didasarkan pada teori system (Van Bertalanffy, 1968) yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya. Prinsip kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti  sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
Dalam prinsip pertama kausalitas sirkular yang menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi itu berhubungan dan saling bergantung, memiliki sebab atas perilaku Heather yang jelas di ungkapkan nya bahwa Heather merindukan Ben yang dulu dan Ben menyatakan bahwa Don telah bersikap pilih kasih. Model terapi keluarga yang digunakan oleh terapis pada kasus diatas adalah behavioral, dimana terapis berusaha untuk merubah perilaku maladaptif pada diri Ben dan mencoba untuk mempererat hubungan interpersonal antara Don, Ben, dan Heather.

Rabu, 25 Maret 2015

PSIKOTERAPI

Minggu, 18 Januari 2015

TUGAS 4 (Pelatihan dan Pengembangan)

A. DEFINISI PELATIHAN

Menurut beberapa para ahli:

1. Gomes (2003:197)
Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya, atau satu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya

2. Bernardin dan Russell (1998:172)
Pelatihan didefinisikan sebagai berbagai usaha pengenalan untuk mengembangkan kinerja tenaga kerja pada pekerjaan yang dipikulnya atau juga sesuatu berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini biasanya berarti melakukan perubahan perilaku, sikap, keahlian, dan pengetahuan yang khusus atau spesifik. Dan agar pelatihan menjadi efektif maka di dalam pelatihan harus mencakup suatu pembelajaraan atas pengalaman-pengalaman, pelatihan harus menjadi kegiatan keorganisasian yang direncanakan dan dirancang didalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang teridentifikasi.

3. Never Ending Transfusing - Application Training (NET-at)
Pelatihan adalah kegiatan belajar dan praktek untuk sesuatu tujuan baik, dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus untuk meningkatkan kemampuan (continuously and never end) manusia, dan fitrahnya.


B. TUJUAN DAN SASARAN PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN

Tujuan diselenggarakan peltihan dan pengembangan diarahkan untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan. Adapun tujuannya sebagai berikut :
1.         Meningkatkan produktivitas
2.         Meningkatkan mutu tenaga kerja
3.         Meningkatkan ketepatan dalam perencanaan SDM
4.         Meningkatkan semangat kerja: Suatu rangkaian reaksi positif dapat dihasilkan       dari program pelatihan perusahaan yang direncanakan dengan baik.
5.         Menarik dan menahan tenaga kerja yang baik
6.         Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja
7.         Menunjang pertumbuhan pribadi (personal growth)


C. FAKTOR PSIKOLOGI DALAM PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN

Dalam kenyataan sehari-hari banyak faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang dalam bekerja. Faktor-faktor tersebut seringkali tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan lain di luar psikologi. Contoh: dalam suatu tim yang terdiri dari para pakar yang sangat genius seringkali justru tidak menghasilkanperformance yang baik dibandingkan dengan sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang berkategori biasa-biasa saja.

Bagaimana psikologi berperan dalam perusahaan, menurut John Miner dalam bukunya Industrial-Organizational Psychology (1992), dapat dirumuskan dalam 4 bagian:

1. Terlibat dalam proses input: melakukan rekrutmen, seleksi, dan penempatan karyawan.

2. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada produktivitas: melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja, meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan.

3. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada pemeliharaan: melakukan hubungan industrial (pengusaha-buruh-pemerintah), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung dengan baik, ikut terlibat secara aktif dalam penentuan gaji pegawai dan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya, pelayanan berupa bimbingan, konseling dan therapi bagi karyawan-karyawan yang mengalami masalah-masalah psikologis Terlibat dalam proses output: melakukan penilaian kinerja, mengukur produktivitas perusahaan, mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan.

Dengan melihat peran tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa Psikologi berperan dalam semua aspek-aspek individual yang berhubungan dengan pekerjaan dan organisasi. Peran tersebut diatas juga sekaligus menepis anggapan yang mengatakan bahwa para Psikolog yang direkrut oleh perusahaan tidak lebih dari "tukang test dan Interviewer". Meskipun dalam kenyataannya masih sering ditemui bahwa para Psikolog yang ditempatkan di HRD atau Personalia hanya dapat menjalankan fungsinya sebagai recruiter atau petugas yang membayar gaji pegawai semata. Bagaimana para Psikolog memaksimalkan perannya dalam perusahaan merupakan tantangan bagi para profesional di bidang Psikologi untuk bersaing dengan para lulusan dari bidang-bidang ilmu lain seperti Ekonomi, Hukum, dll. (jp)


D. TEKNIK DAN METODE PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN

Program-program pelatihan dan pengembangan dirancang untuk meningkatkan perestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran, serta memperbaiki kepuasan kerja. Ada dua kategori pokok program pelatihan dan pengembangan manajemen. (Decenzo&Robbins:1999:230):
1.         Metode praktis (on the job training)
2.         Teknik-teknik presentasi informasi dan metode-metode simulasi (off the job training)

Masing-masing kategori mempunyai sasaran pengajaran sikap konsep atau pengetahuan dan/atau keterampilan utama yang berbeda. Dalam pemilihan teknik tertentu untuk dugunakan pada program pelatihan dan pengembangan, ada beberapa trade offs. Ini berarti tidak ada satu teknik yang selalu baik: metode tergantung pada sejauh mana suatu teknik memenuhi faktor-faktor berikut:
1.         Efektivitas biaya
2.         Isi program yang dikehendaki
3.         Kelayakan fasilitas-fasilitas
4.         Preferensi dan kemampuan peserta
5.         Preferensi dan kemampuan instruktur atau pelatih
6.         Prinsip-prinsip belajar

Teknik-teknik on the job merupakan metode latihan yang paling banyak digunakan. Karyawan dilatih tentang pekerjaan baru dengan sepervise langsung seorang pelatih yang berpengalaman (biasanya karyawan lain). Berbagai macam teknik ini yang bisa digunakan dalam praktek adalah sebagai berikut:
1.         Rotasi jabatan
2.         Latihan instruksi pekerjaan
3.         Magang (apprenticeships)
4.         Coaching
5.         Penugasan sementara

Teknik-teknik off the job, dengan pendekatan ini karyawan peserta latihan menerima representasi tiruan (articial) suatu aspek organisasi dan diminta untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Dan tujuan utama teknik presentrasi (penyajian) informasi adalah untuk mengajarkan berbagai sikap, konsep atau keterampilan kepada para peserta. Metode yang bisa digunakan adalah:
1.         Metode studi kasus
2.         Kuliah
3.         Studi sendiri
4.         Program computer
5.         Komperensi
6.         Presentasi


Sumber:
http://forum-mikomunitas.blogspot.com/2013/07/definisi-pelatihan-menurut-para-ahlinya.html
http://nailasuhada-m.blogspot.com/2012/04/pelatihan-dan-pengembangan-sumberdaya.html
http://www.e-psikologi.com/artikel/organisasi-industri/peran-psikologi-dalam-perusahaan

Senin, 10 November 2014

Mantan karyawan colong baterai tower BTS

Mantan karyawan colong baterai tower BTSMerdeka.com - Berbekal pengalaman saat bekerja di perusahaan provider, lima orang mencuri baterai tower. Dua pelaku di antara berhasil diciduk dan ditembak polisi.

Kapolsek Sako Palembang AKP Oloan Purba melalui Kanit Reskrim Ipda Welly Marvendo mengungkapkan, kedua tersangka berhasil ditangkap di tempat persembunyiannya di salah satu rumah kosong di komplek Vila Kenten Palembang, Kamis (6/11). Di rumah itu juga ditemukan barang bukti berupa tower hasil curian yang belum sempat dijual.

"Karena melawan, petugas menembak kaki kedua tersangka. Dari pemeriksaan, mereka beraksi bersama tiga pelaku lain yang masih buron, semuanya mantan karyawan provider tower itu," ungkap Welly, Jumat (7/11).

Sementara salah satu tersangka, Ahmad (32) mengaku nekat mencuri baterai tower lantaran sudah mengenal cara pemasangan dan pelepasannya. Sebab, dia bekerja di sebuah perusahaan provider selama tiga tahun dan berhenti awal tahun lalu.

"Saya sudah pengalaman. Karena menguntungkan dan cukup mudah, kami curi baterai tower. Kami beraksi lima orang, semuanya berpengalaman," kata dia.

Sejak berhenti bekerja, dia dan temannya sudah dua kali mencuri baterai tower dan mendapatkan 16 unit baterai. Masing-masing memiliki berat 30 kilogram. "Kami jual kiloan. Per kilo dapat Rp 9 ribu. Kami bagi rata," pungkasnya.

Nilvia (2002) bahwa kepuasan kerja karyawan merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam usaha peningkatan kemampuan sumber daya manusia suatu organisasi, karena dengan kepuasan kerja yang dirasakan maka seorang karyawan mampu bekerja secara optimal.
Kurang nya kepuasan kerja yang didapatkan menyebabkan tindak yang negatif karena kurang nya kepuasan yang di dapatkan oleh individu tersebut.

Sumber : 
http://www.merdeka.com/peristiwa/mantan-karyawan-colong-baterai-tower-bts.html



PENGORGANISASIAN, CONTROLLING, ACTUATING, MOTIVASI DAN KEPUASAN KERJA

A.    PENGORGANISASIAN STRUKTUR MANAJEMEN
1.      Definisi Manajemen
Seperti telah diuraikan sebelumnya tentang Manajemen, Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen. Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
2.      Pengorganisasian Sebagai Fungsi Manajemen
Salah satu fungsi manajemen adalah mengetahui pengorganisasian yang merupakan salah satu fungsi manajemen yang penting karena dengan pengorganisasian berarti akan memadukan seluruh sumber-sumber yang ada dalam organisasi, baik yang berupa sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya ke arah tercapainnya suatu tujuan. pentingnya pengorganisasian sebagai fungsi yang dijalankan oleh setiap manajer atau orang-orang yang menjalankan manajemen dalam setiap organisasi.

B.     ACTUATING DALAM MANAJEMEN

1.   1.  Definisi Actuating
Penggerakan atau Actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).
2.      Pentingnya Actuating
Seorang pemimpin harus mampu mengarahkan semua karyawan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif dalam mencapai tujuan perusahaan dengan berpedoman pada perencanaan (planning) dan usaha pengorganisasian.
3.      Prinsip Actuating
Prinsip-prinsip actuating menurut Kurniawan (2009) sebagai berikut :
a.       Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
b.      Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
c.       Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
d.      Menghargai hasil yang baik dan sempurna
e.       Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
f.       Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup

g.      Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya

C.    MENGENDALIKAN FUNGSI MANAJEMEN
1.      Definisi Controlling

Pengendalian atau Controlling adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan semula. 
2.      Control Sebagai Proses Manajemen
Stoner & Wankel (dalam Ruky 2002) menjelaskan bahwa salam konteks manajemen, istilah asli yang digunakan adalah Controlling dan kata ini sebenarnya mencakup 2 (dua) Kegiatan: pengawasan dan pengendalian. Kegiatan pengawasan dalam proses manajemen dapat didefinisikan sebagai Sebuah proses yang dilakukan untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan (dalam proses manajemen) berjalan mengikuti rencana yang telah ditetapkan dan menuju kepada sasaran yang harus dicapai
3.      Tipe-tipe Controlling
a.       Pengendalian preventif (prefentive control). Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan perumusan strategic dan perencanaan strategic yang dijabarkan dalam bentuk program-program.
b.      Pengendalian operasional (Operational control). Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan pengawasan pelaksanaan program yang telah ditetapkan melalui alat berupa anggaran. Anggaran digunakan untuk menghubungkan perencanaan dengan pengendalian.
c.       Pengendalian kinerja. Pada tahap ini pengendalian manajemen berupa analisis evaluasi kinerja berdasarkan tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan.

D.    MOTIVASI
1.      Definisi motivasi
Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.
2.      Teori-teori motivasi
a.       Abraham maslow
Dari banyaknya teori motivasi, Abraham Maslow dengan teori hierarki kebutuhan yang dikemukakanya dapat dikatakan sebagai teori yang paling banyak dikenal, ia membuat hipotesis bahwa dalam setap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah :
·         Fisiologis : meliputi rasa lapar, haus, berlindunga, seksual dan kebutuhan fisik lainya
·         Rasa aman: meliputi rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional
·         Sosial : meliputi rasa kasih saying, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan
·       Penghargaan : meliputi faktir-faktor penghargaan internal seperti hormat diri, otonomi dan pencapaian
·         Aktualisasi diri: dorongan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapanya
3.      Definisi Motivasi Kerja
Motivasi merupakan proses pemberian dorongan kepada anak buah supaya anak buah dapat bekerja sejalan dengan batasan yang diberikan guna mencapai tujuan organisasi secara optimal.

E.     KEPUASAN KERJA
1.      Definisi Kepuasan Kerja
menurut Testa dan Locke (dalam Koesmono, 2005) Kepuasan kerja merupakan kegembiraan atau pernyataan emosi yang positif hasil dari penilaian salah satu pekerjaan atau pengalaman-pengalaman pekerjaan.
2.      Aspek-aspek Kepuasan Kerja
Aspek  kepuasan  kerja yang  memiliki penilaian paling tinggi adalah sifat pekerjaan, sedangkan aspek kepuasan kerja yang memiliki penilaian paling rendah adalah tunjangan.
3.      Faktor-faktor Kepuasan Kerja
  • Karakter individu, yang meliputi: kebutuhan-kebutuhan individu, nilai-nilai yang dianut individu (values), dan ciri-ciri kepribadian (personality traits).
  • Variabel-variabel yang bersifat situasional, yang meliputi: perbandingan terhadap situasi sosial yang ada, kelompok acuan, pengaruh dari pengalaman kerja sebelumnya.
  • Karakteristik pekerjaan, yang meliputi: imbalan yang diterima, pengawasan yang dilakukan oleh atasan,  pekerjaan itu sendiri, hubungan antara rekan sekerja,  keamanan  kerja,  kesempatan  untuk  memperoleh  perubahan status.



  • Sumber :
    Mangkunegara, Anwar Prabu, A.A. (2009). Manajemen sumber daya manusia perusahaan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
    Basuki, Heru A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Gunadarma.


    Senin, 13 Oktober 2014

    Tulisan 3 Pertemuan 1

    Komunitas Punk Burma Kutuk Serangan Terhadap Muslim Rohingya


    Kelompok punk selalu menarik perhatian di jalanan, namun bukan hanya karena rambut berwarna merah muda, jaket kulit berpaku-paku atau tato tengkorak yang membuat para anak muda berusia 20an ini disebut pemberontak.

    Di Burma, mereka berani berbicara melawan para biksu Buddha yang melakukan kekerasan terhadap kelompok Muslim, sementara yang lainnya berdiam diri.

    “Jika mereka biksu yang sebenarnya, saya akan tutup mulut, tapi mereka bukan biksu,” ujar Kyaw Kyaw, vokalis Rebel Riot, di tengah hentakan drum dalam lagu baru yang mengecam kemunafikan agama dan gerakan anti-Muslim yang disebut “969.”

    “Mereka adalah kelompok nasionalis dan fasis. Tidak ada yang mau mendengar hal itu, tetapi itu benar.”

    Para biksu radikal ada di tempat terdepan dalam kampanye berdarah melawan Muslim, dan hanya sedikit dari 60 juta penduduk yang mayoritas beragama Buddha itu mau berbicara melawan mereka. Untuk banyak pihak, menjadi Buddhis adalah bagian penting untuk menjadi orang Burma, dan para biksu, anggota masyarakat paling dihormati, tak dapat dijangkau kecaman. Warga lainnya memilih menyangkal situasi tersebut, atau percaya klaim bahwa “pendatang” Muslim mendatangkan ancaman pada budaya dan tradisi mereka.

    Kebungkaman ini berbahaya saat massa merangsek masjid dan bersorak sorai saat para Muslim diburu dan dipukuli sampai mati dengan rantai dan pipa besi, menurut Michael Salberg, direktur masalah internasional pada lembaga Anti-Defamation League (Liga Anti-Penistaan) di AS.

    "Bukan pelakunya yang menjadi masalah di sini,” ujarnya, mengacu pada kondisi-kondisi yang membuka jalan untuk tragedi Holocaust di Jerman dan pembantaian di Rwanda. “Tapi penonton.”

    Menyusul kekuasaan militer yang keras selama setengah abad, pemerintahan setengah sipil dua tahun lalu memberlakukan reformasi, membebaskan pemimpin pro-demokrasi Aung San Suu Kyi dari penahanan rumah, melonggarkan batasan-batasan untuk berorganisasi secara damai, membuka media dan menghapus sensor.

    Sekelompok anak muda punk membagikan makanan untuk para tunawisma di Rangoon, Burma. (AP/Gemunu Amarasinghe)Sekelompok anak muda punk membagikan makanan untuk para tunawisma di Rangoon, Burma. (AP/Gemunu Amarasinghe)
    Kemerdekaan yang sama juga memberikan suara untuk biksu-biksu seperti Wirathu, pembicara karismatik dan pendukung gerakan 969. Pengikutnya bertambah saat ia berkeliling negeri, menyerukan boikot atas toko-toko milik orang Muslim dan larangan pernikahan antara perempuan Buddhis dan laki-laki Muslim, serta mengingatkan bahwa tingkat kelahiran yang meningkat dapat suatu hari membuat Muslim yang saat ini merupakan 4 persen populasi menjadi mayoritas.

    “Yang ingin saya katakan di sini hanyalah, orang-orang seharusnya melihat ajaran Buddha dan bertanya pada diri mereka sendiri, apakah ini yang ia maksud?” ujar Ye Ngwe Soe, 27, vokalis No U Turn, band punk rock paling populer di negara itu.
    Ia menulis lagu “Human Wars (Perang Manusia)” setelah kekerasan melawan Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine mulai menyebar ke daerah lain.

    “Ketika saya pergi ke daerah perkotaan, saya mendengar pembicaraan tentang 969, kebencian terhadap Muslim, kekerasan. Ini seharusnya tidak begini,” ujarnya.
    Ahli-ahli mengenai penyebaran kebencian secara verbal mengatakan cara terbaik untuk menghadapi orang-orang seperti Wirathu adalah dengan mencari suara para Buddhis yang moderat.

    Namun di luar sekelompok kecil biksu dan aktivis hak sipil yang telah berkumpul untuk mengadakan dialog antar agama, hanya sedikit yang maju. Orang-orang Barat yang bekerja di Burma seringkali terkejut ketika bawahan-bawahan mereka asal Burma yang biasanya progresif menjadi pembela para biksu dan tidak mengatakan apa pun ketika membahas kekerasan agama tersebut.

    “Saya yakin banyak yang berpikir itu gila, tapi mereka tidak berani mengungkapkannya secara terbuka,” ujar Bertil Lintner, jurnalis Swedia yang telah menulis beberapa buku mengenai Burma.

    “Jika mereka berbicara, mereka akan diserang oleh para nasionalis baru, kelompok beragama fanatik, dituduh akrab dengan Muslim. Ini situasi yang sulit.”

    Arker Kyaw, seorang artis grafiti berusia 20 tahun, memiliki beberapa teman – sebagian besar musisi dan DJ – yang Muslim dan sangat geram dengan kekerasan yang telah merusak komunitas mereka dalam setahun belakangan.

    Ia dan kawan-kawan lainnya dari latar belakang agama yang berbeda-beda membuat video musik yang mengekspresikan solidaritas, yang menyatakan, “Jangan khawatir, paling tidak di antara kita, semuanya baik-baik saja.”

    Namun ketika ditanya apakah ia tidak ingin melawan 969 ketika ia melihat stiker dan tanda-tanda di dinding-dinding kota Rangoon, ia mengatakan: “Tidak. Ini sangat rumit. Untuk hal yang satu ini, saya kira lebih baik menjadi penonton, bukan bagian darinya.”

    Presiden Thein Sein, yang dipuji AS dan yang lainnya karena agenda-agenda reformasinya, melarang salah satu edisi majalah Time yang memasang foto Wirathu di sampul majalah dan menyebutnya “wajah teror Buddhis,” dengan mengatakan bahwa ia mendukung 969 dan menganggap biksu ekstremis itu “putra Sang Buddha.”

    Dengan pemilihan umum yang dijadwalkan pada 2015, pemimpin oposisi Suu Kyi tidak mengatakan apa pun, khawatir, menurut para analis, akan ada akibatnya dalam jajak pendapat jika ia dianggap sebagai anti-Buddhis.

    Tinggallah para penyanyi punk rock, yang tahu benar makna menjadi orang luar.

    Pada kekuasaan militer, komunitas punk yang kecil berlatih dan tampil secara rahasia, seringkali di gedung-gedung yang terbengkalai, rel kereta api atau secara privat, di depan sekelompok kecil teman dekat. Sementara warga lain ciut karena ancaman penangkapan dan penjara, komunitas pank meneriakkan kecaman mengenai kekerasan di tangan militer dan bertanya mengapa para pengusaha yang berkoneksi politik semakin kaya sementara masyarakat menderita.

    Saat ini, mereka memiliki isu baru untuk dikritik, yaitu intoleransi beragama. Dan mereka tidak akan berdiam diri.

    Kyaw Kyaw dari Rebel Riot mengatakan bahwa meski ia tidak bisa mengubah dunia, atau Burma, atau Rangon sekalipun, setidaknya ia dapat mempengaruhi mereka yang berada di dekatnya.

    “Mereka bisa menangkap kami, kami tidak peduli,” ujar pemuda 26 tahun putra pejabat polisi ini.

    “Atau kami bisa diserang kelompok tertentu. Kami tidak peduli. Kami telah menyiapkan mental. Tapi kami ingin menyuarakan pikiran kami.” (AP/Robin McDowell)

    Sumber :
    http://www.voaindonesia.com/content/komunitas-punk-burma-kutuk-serangan-terhadap-muslim-rohingya/1724117.html